Jakarta (ANGKARAJA) — Sejarah perjuangan Indonesia tidak berhenti pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Justru setelahnya, bab-bab paling sunyi dan menentukan ditulis—di medan pertempuran kecil, di desa-desa yang dibakar, di meja perundingan yang tegang, dan di rumah-rumah rakyat yang menyembunyikan para pejuang. Bab-bab inilah yang kini ingin dirangkai kembali oleh pemerintah melalui penyusunan buku sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar negara untuk memastikan bahwa generasi hari ini dan esok tidak hanya mengingat tanggal kemerdekaan, tetapi juga memahami harga yang dibayar untuk mempertahankannya.
Menghidupkan Sejarah yang Kerap Terlupa
Banyak kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan tersebar dalam fragmen—arsip lama, kesaksian lisan, catatan keluarga, dan ingatan para saksi sejarah yang kian menua. Pemerintah menilai, kisah-kisah ini perlu dirangkum secara utuh agar tidak hilang ditelan waktu.
Buku yang disiapkan ini tidak hanya akan berbicara tentang tokoh besar dan peristiwa nasional, tetapi juga perlawanan rakyat di daerah, peran perempuan, pemuda, dan masyarakat sipil yang selama ini kurang mendapat ruang dalam narasi arus utama.
“Sejarah bukan hanya milik pemenang atau tokoh terkenal,” ujar seorang sejarawan. “Ia milik semua yang bertahan.”
Sejarah sebagai Kerja Kemanusiaan
Penyusunan buku ini dipandang bukan sekadar proyek akademik, melainkan kerja kemanusiaan. Di balik setiap peristiwa, ada manusia—dengan ketakutan, keberanian, dan pengorbanan yang sering tak tercatat.
Seorang veteran pernah berkata, “Kami tidak berpikir sedang membuat sejarah. Kami hanya ingin Indonesia tetap ada.” Kalimat sederhana itu menjadi ruh dari buku yang sedang disiapkan: menghadirkan sejarah dengan wajah manusia, bukan angka semata.
Negara Hadir Merawat Ingatan
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam merawat ingatan kolektif bangsa. Fadli Zon menekankan bahwa penulisan sejarah harus dilakukan secara serius, berbasis sumber yang kuat, dan terbuka pada berbagai perspektif.
Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menurutnya, adalah fondasi penting untuk membangun kesadaran kebangsaan—terutama di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memahami perjalanan dan pengorbanannya,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Menjembatani Akademik dan Publik
Buku sejarah ini dirancang agar tidak hanya menjadi konsumsi akademisi, tetapi juga mudah dipahami oleh masyarakat luas. Bahasa yang jernih, alur narasi yang mengalir, serta penguatan konteks sosial diharapkan membuat sejarah terasa dekat dan relevan.
Pelajar, guru, dan komunitas budaya menjadi sasaran penting. Buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, diskusi publik, hingga refleksi kebangsaan.
“Sejarah harus bisa dibaca dengan hati, bukan hanya dihafal,” kata seorang pendidik.
Menggali dari Daerah ke Pusat
Salah satu pendekatan utama adalah penggalian sumber sejarah dari daerah. Banyak daerah memiliki kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang unik—mulai dari pertempuran lokal, diplomasi rakyat, hingga perlawanan senyap yang jarang dicatat.
Pemerintah mendorong kolaborasi dengan sejarawan daerah, arsip lokal, dan keluarga pelaku sejarah untuk memastikan narasi yang disusun tidak terpusat pada satu sudut pandang.
“Indonesia terlalu luas untuk diceritakan dengan satu suara,” ujar seorang peneliti sejarah.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan cara generasi muda belajar, buku sejarah ini diposisikan sebagai jangkar ingatan. Ia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang dipertahankan dengan nyawa dan keberanian.
Bagi generasi muda, memahami fase mempertahankan kemerdekaan berarti memahami arti tanggung jawab sebagai warga negara—bahwa kebebasan selalu datang bersama kewajiban untuk menjaganya.
Sejarah yang Menjaga Bangsa
Penyusunan buku sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah langkah sunyi namun penting. Ia mungkin tidak riuh seperti peringatan hari besar, tetapi dampaknya jangka panjang—membentuk cara bangsa ini memandang dirinya sendiri.
Di antara halaman-halaman yang sedang disiapkan itu, tersimpan pesan yang sama dari masa lalu ke masa kini: Indonesia ada karena ada yang bertahan.
Dan dengan merawat sejarahnya, bangsa ini sedang menjaga masa depannya.