Den Haag (epictoto) — Bahasa diplomasi biasanya berhati-hati. Namun kali ini, kata yang dipilih terdengar tegas. Menteri Luar Negeri Belanda Caspar Veldkamp menyebut ancaman tarif yang dilontarkan mantan Presiden AS Donald Trump sebagai bentuk “pemerasan”—sebuah pernyataan yang mencerminkan kekhawatiran Eropa terhadap arah perdagangan global yang kian keras dan transaksional.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang lintas Atlantik, ketika ancaman tarif digunakan sebagai alat tawar untuk menekan kebijakan negara lain. Bagi Belanda—negara pelabuhan dan perdagangan—isu ini menyentuh langsung urat nadi ekonomi dan rasa aman publik.
Perdagangan dan Rasa Aman Warga
Belanda hidup dari keterbukaan. Pelabuhan Rotterdam, jaringan logistik, dan industri manufaktur bergantung pada arus barang yang stabil. Ketika tarif dijadikan ancaman, dampaknya tak berhenti pada neraca dagang; ia merembet ke harga barang, lapangan kerja, dan kepastian usaha—hal-hal yang dirasakan warga sehari-hari.
“Jika perdagangan dijadikan alat tekanan sepihak, yang menanggung biaya akhirnya adalah masyarakat,” ujar seorang analis kebijakan di Den Haag. Di sinilah dimensi kemanusiaan muncul: keputusan di level tinggi beresonansi hingga ke dapur rumah tangga.
Hukum Internasional dan Batas Tekanan
Penyebutan “pemerasan” bukan sekadar retorika. Ia menyinggung batas-batas hukum dan etika dalam perdagangan internasional. Prinsip multilateral—yang menekankan aturan bersama dan penyelesaian sengketa—dianggap tergerus ketika tarif dipakai sebagai ancaman unilateral.
Dari perspektif hukum, Eropa menilai kepastian aturan adalah fondasi. Tanpanya, dunia usaha kesulitan merencanakan investasi, sementara negara-negara kecil berada pada posisi rentan terhadap tekanan kekuatan besar.
Eropa Menjaga Barisan
Pernyataan Menlu Belanda juga dibaca sebagai sinyal konsolidasi Eropa. Uni Eropa cenderung mendorong respons bersama: dialog, pembelaan terhadap sistem berbasis aturan, dan—bila perlu—langkah penyeimbang yang sah. Tujuannya bukan eskalasi, melainkan pencegahan dampak agar ketegangan tidak berubah menjadi perang tarif yang merugikan semua pihak.
Di balik sikap itu ada pertimbangan keamanan publik: stabilitas ekonomi adalah prasyarat stabilitas sosial.
Bahasa Keras, Pesan Kemanusiaan
Mengapa kata “pemerasan” dipilih? Karena ia menyampaikan pesan yang mudah dipahami publik: tekanan ekonomi yang memaksa pilihan. Dalam diplomasi modern, keterbukaan kepada warga menjadi penting—menjelaskan mengapa pemerintah bersikap tegas demi melindungi kepentingan masyarakat.
Seorang pekerja pelabuhan di Rotterdam berkomentar singkat, “Kami hanya ingin kepastian. Jangan jadikan pekerjaan kami alat tawar.” Kalimat ini merangkum kegelisahan di lapangan.
Ke Mana Arah Perdagangan Global?
Ketegangan ini menjadi cermin dunia yang sedang mencari keseimbangan baru antara kepentingan nasional dan kerja sama global. Ancaman tarif mungkin efektif sebagai tekanan jangka pendek, tetapi berisiko mengikis kepercayaan—modal utama perdagangan.
Bagi Belanda dan Eropa, pesan yang disampaikan jelas: dialog di atas tekanan, aturan di atas ancaman. Karena pada akhirnya, perdagangan bukan hanya soal angka—melainkan kehidupan manusia yang bergantung padanya.