Sulawesi Utara (cvtogel) — Sungai yang mengalir tenang, bendungan yang berdiri kokoh, dan saluran irigasi yang menghidupi sawah-sawah warga sering kali dipandang sebagai bagian biasa dari lanskap. Namun di baliknya, ada kerja panjang, kolaborasi lintas sektor, dan tanggung jawab besar untuk menjaga sumber daya alam (SDA) agar tetap lestari dan aman bagi kehidupan manusia.
Kesadaran itulah yang mendorong Balai Wilayah Sungai Sulawesi I dan Kodam Merdeka memperkuat sinergi dalam mendukung program pengelolaan SDA di wilayah Sulawesi bagian utara. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan perubahan iklim, risiko bencana hidrometeorologi, serta kebutuhan air yang terus meningkat.
Dari Air, Kehidupan Bertumpu
Air bukan sekadar sumber daya, melainkan nadi kehidupan. Di banyak desa, sungai menjadi tumpuan pertanian, kebutuhan rumah tangga, hingga aktivitas ekonomi kecil. Ketika aliran terganggu—oleh sedimentasi, sampah, atau kerusakan lingkungan—dampaknya langsung terasa pada kesejahteraan warga.
Melalui sinergi ini, BWS Sulawesi I dan Kodam Merdeka berupaya memastikan pengelolaan sungai, bendungan, dan jaringan irigasi berjalan optimal. Kegiatan meliputi normalisasi sungai, pemeliharaan infrastruktur SDA, hingga karya bakti bersama masyarakat untuk membersihkan alur air.
Peran TNI dalam Kemanusiaan
Keterlibatan Kodam Merdeka bukan hal baru. Selain tugas pertahanan, TNI kerap hadir dalam misi kemanusiaan dan pembangunan. Dalam pengelolaan SDA, peran prajurit di lapangan memperkuat aspek kedisiplinan, kecepatan, dan jangkauan kerja—terutama di wilayah sulit dijangkau.
Bagi warga, kehadiran TNI memberi rasa aman dan kepercayaan. “Kalau tentara ikut turun, kami merasa pekerjaan lebih cepat dan sungai kami lebih terawat,” ujar seorang warga yang ikut dalam kegiatan gotong royong di bantaran sungai.
Mitigasi Bencana sebagai Tujuan Bersama
Sulawesi Utara dan sekitarnya termasuk wilayah yang rawan banjir dan longsor, terutama saat musim hujan. Pengelolaan SDA yang baik menjadi kunci mitigasi bencana. Sungai yang bersih dan terawat dapat mengurangi risiko luapan, sementara bendungan dan saluran irigasi yang terjaga membantu mengatur debit air.
Sinergi BWS Sulawesi I dan Kodam Merdeka juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Pemantauan lapangan, perbaikan ringan infrastruktur, serta edukasi kepada masyarakat menjadi bagian dari pendekatan pencegahan, bukan sekadar penanganan darurat.
Hukum, Lingkungan, dan Tanggung Jawab Negara
Pengelolaan SDA tidak lepas dari aspek hukum dan tata kelola. Sungai dan sumber air adalah aset negara yang harus dilindungi dari perusakan dan pemanfaatan yang tidak bertanggung jawab. Melalui kolaborasi lintas lembaga, pengawasan diharapkan lebih efektif, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Negara hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung hak warga atas air bersih dan lingkungan yang sehat. Sinergi ini menjadi wujud nyata tanggung jawab tersebut.
Gotong Royong untuk Masa Depan
Di lapangan, program pengelolaan SDA sering kali melibatkan masyarakat sekitar. Petani, nelayan, dan warga desa diajak terlibat langsung agar tumbuh rasa memiliki. Gotong royong menjadi jembatan antara kebijakan dan realitas sehari-hari.
“Kalau sungainya bersih, sawah kami aman,” kata seorang petani. Kalimat sederhana itu merangkum esensi pengelolaan SDA: keberlanjutan hidup manusia.
Menjaga Alam, Menjaga Kemanusiaan
Sinergi antara BWS Sulawesi I dan Kodam Merdeka menunjukkan bahwa menjaga alam berarti menjaga manusia. Pengelolaan SDA bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi masa depan—untuk ketahanan pangan, keselamatan publik, dan keberlanjutan lingkungan.
Di tengah tantangan iklim dan tekanan pembangunan, kolaborasi ini menjadi harapan bahwa sungai akan tetap mengalir jernih, sawah tetap hijau, dan masyarakat Sulawesi dapat hidup berdampingan dengan alam secara lebih aman dan bermartabat.