Di tepi sungai yang kini hanya menyisakan bebatuan dan pasir basah, warga berdiri termangu. Aliran air yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan—untuk minum, mandi, bertani, dan beternak—mendadak hilang setelah bencana melanda. Fenomena sungai yang mengering pascabanjir, longsor, atau gempa ini kerap menimbulkan kecemasan dan pertanyaan besar di tengah masyarakat: ke mana perginya air?
Menjawab kegelisahan tersebut, pakar hidrologi dari Universitas Andalas (Unand) menjelaskan bahwa mengeringnya sungai pascabencana bukan kejadian tunggal atau mistis, melainkan hasil dari proses alam yang kompleks dan saling berkaitan. Pemahaman ini penting, tidak hanya untuk menjawab rasa ingin tahu warga, tetapi juga untuk menjaga keselamatan publik dan menentukan langkah pemulihan yang tepat.
Air Tidak Hilang, Tapi Berubah Jalan
Menurut pakar Unand, penyebab paling umum sungai tampak mengering adalah perubahan jalur aliran air. Bencana seperti banjir bandang dan longsor membawa material dalam jumlah besar—batu, tanah, pasir, dan batang kayu—yang dapat menyumbat alur sungai di hulu.
Akibatnya, air mencari jalan lain. Ia bisa mengalir di bawah timbunan material, merembes ke lapisan tanah yang lebih dalam, atau berpindah ke jalur baru yang tidak terlihat dari permukaan. Bagi warga di hilir, kondisi ini tampak seperti sungai yang “mati”, padahal airnya masih ada, hanya tak lagi muncul di jalur lama.
Sedimentasi yang Memutus Aliran
Bencana juga mempercepat sedimentasi. Lumpur dan pasir yang terbawa arus mengisi dasar sungai hingga dangkal. Saat hujan berhenti, aliran air menjadi sangat tipis atau terputus di beberapa titik.
Pendangkalan ini bukan hanya mengurangi debit air, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan. Sungai yang dangkal dan tersumbat berpotensi meluap kembali saat hujan berikutnya, memicu banjir susulan yang bisa lebih berbahaya karena datang tanpa peringatan.
Gangguan pada Sistem Air Tanah
Pakar Unand juga menyoroti peran air tanah dan mata air. Gempa bumi atau pergeseran tanah dapat merusak lapisan batuan yang selama ini menyimpan dan mengalirkan air bawah tanah. Retakan baru bisa membuat air meresap lebih dalam atau keluar di tempat lain.
Akibatnya, mata air yang biasanya menyuplai sungai melemah bahkan berhenti sementara. Fenomena ini sering bersifat sementara, tetapi waktu pemulihannya bergantung pada kondisi geologi dan curah hujan.
Dampak Kemanusiaan yang Nyata
Mengeringnya sungai pascabencana bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya langsung menyentuh sisi kemanusiaan. Warga kehilangan sumber air bersih, aktivitas pertanian terganggu, ternak kekurangan air, dan beban ekonomi meningkat.
Dalam kondisi tertentu, kelangkaan air juga berpotensi memicu konflik antarwarga. Karena itu, pakar Unand menekankan pentingnya respons cepat dan berbasis sains agar hak masyarakat atas air tetap terlindungi.
Pentingnya Langkah Pemulihan Terukur
Untuk mengatasi sungai yang mengering, pendekatan darurat saja tidak cukup. Pakar Unand merekomendasikan langkah pemulihan jangka pendek dan panjang, antara lain:
-
pemetaan ulang alur sungai pascabencana,
-
pembersihan sumbatan secara selektif dan aman,
-
rehabilitasi kawasan hulu melalui reboisasi,
-
serta penataan ruang yang mencegah kerusakan lebih lanjut.
Langkah-langkah ini bukan hanya memulihkan aliran air, tetapi juga mengurangi risiko bencana susulan.
Ilmu Pengetahuan sebagai Penjaga Keselamatan
Penjelasan pakar Unand menegaskan bahwa sungai yang mengering pascabencana adalah peringatan alam. Dengan ilmu pengetahuan, fenomena ini bisa dipahami dan dikelola, bukan ditakuti.
Bagi masyarakat terdampak, pemahaman ini memberi harapan bahwa sungai dapat kembali mengalir seiring pemulihan alam dan intervensi yang tepat. Bagi pemerintah dan pemangku kepentingan, sains menjadi dasar kebijakan yang melindungi keselamatan publik dan martabat hidup warga.
Di antara bebatuan sungai yang kering hari ini, tersimpan satu pesan penting: alam berubah cepat, dan manusia harus bersiap dengan pengetahuan, empati, dan tanggung jawab.