BELEM, BRASIL (initogel) — Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, telah menjadi panggung utama bagi Indonesia untuk menunjukkan komitmen aksi iklim yang ambisius sekaligus menuntut keadilan dari negara-negara maju. Delegasi Indonesia, yang dipimpin oleh Menteri terkait, berjuang keras untuk memastikan target Net Zero Emission (NZE) 2060 dapat tercapai melalui kerja sama yang adil dan dukungan pendanaan global.
Perjuangan Indonesia di COP30 berfokus pada tiga pilar utama: hutan, transisi energi, dan pembiayaan iklim.
I. Tiga Poin Utama Perjuangan Indonesia di COP30
1. Menagih Janji Pembiayaan Iklim (Climate Finance)
Perjuangan terbesar Indonesia adalah menuntut realisasi janji pendanaan iklim dari negara-negara maju.
Kesenjangan Dana: Indonesia menekankan bahwa biaya untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) dan transisi energi memerlukan triliunan rupiah, yang sebagian besar harus dipenuhi melalui pendanaan dari luar negeri.
Dana JETP: Delegasi secara intensif membahas percepatan kucuran dana dari Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk memuluskan pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.
2. Mempertahankan Hutan sebagai Jual Beli Karbon Global
Indonesia mempresentasikan keberhasilan program FOLU Net Sink 2030 (Forestry and Other Land Use), yang menargetkan sektor kehutanan Indonesia menyerap karbon lebih banyak daripada yang dilepaskan.
Nilai Hutan Tropis: Indonesia menuntut pengakuan yang lebih tinggi terhadap peran hutan tropis, mangrove, dan gambutnya sebagai paru-paru dunia dan menekankan pentingnya harga karbon yang adil di pasar global.
Diplomasi Mangrove: Indonesia mendorong negara-negara lain untuk berkolaborasi dalam restorasi ekosistem mangrove sebagai solusi berbasis alam (Nature-Based Solution).
3. Keadilan dalam Transisi Energi
Indonesia berpendapat bahwa transisi energi harus dilakukan secara berkeadilan.
Negara berkembang harus didukung secara teknologi dan finansial untuk meninggalkan energi fosil tanpa mengorbankan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Pembahasan detail mengenai teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi fokus, di mana Indonesia mempromosikan potensi menjadi hub penyimpanan karbon regional.
II. Dukungan dan Tuntutan Keadilan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, dalam pernyataannya, menekankan bahwa perjuangan di COP30 adalah tentang keadilan lingkungan.
“Indonesia telah bekerja keras melindungi hutan dan mengurangi emisi. Kini, giliran negara-negara maju untuk memenuhi komitmen mereka. Keadilan harus ditegakkan; negara yang kaya polusi harus membayar dan mendukung pembiayaan iklim secara serius,” tegas Menteri Siti Nurbaya.
Partisipasi Indonesia di COP30 menegaskan posisi negara sebagai leader di Global South yang berjuang untuk memajukan pembangunan sambil memastikan keberlanjutan planet.