Dugaan Perjokian Muncul dalam UTBK-SNBT di Surabaya
Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Surabaya diwarnai temuan dugaan praktik perjokian. Kasus ini mencuat pada hari pertama ujian dan langsung menjadi perhatian serius panitia pusat serta pihak kampus penyelenggara.
Info Selengkapnya : Klik disini
Terungkap dari Kecurigaan Pengawas
Dugaan perjokian pertama kali terdeteksi di salah satu lokasi ujian di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Seorang peserta dicurigai menggunakan identitas yang tidak sesuai saat mengikuti ujian.
Kecurigaan muncul karena gelagat peserta yang tidak wajar. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan ketidaksesuaian antara identitas resmi dengan orang yang hadir di ruang ujian. Kasus ini kemudian langsung dicatat dalam berita acara dan dilaporkan ke panitia pusat UTBK.
Tidak hanya itu, data peserta tersebut juga diketahui memiliki keterkaitan dengan lokasi ujian lain, yakni Universitas Airlangga, sehingga memperkuat dugaan adanya praktik perjokian terstruktur.
Modus: Identitas Palsu hingga “Joki Lintas Tahun”
Temuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia menunjukkan bahwa modus yang digunakan cukup beragam.
Salah satunya adalah penggunaan identitas palsu atau berbeda saat ujian berlangsung. Bahkan, ditemukan indikasi “joki lintas tahun”, di mana satu orang mengikuti UTBK pada tahun berbeda dengan identitas yang berbeda, tetapi menggunakan foto yang sama.
Selain itu, ada pula upaya manipulasi foto pada data pendaftaran agar lolos verifikasi awal. Namun, teknologi face recognition yang digunakan panitia mampu mendeteksi perbedaan tersebut.
Ribuan Data Anomali Terdeteksi
Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengungkap bahwa sejak awal mereka telah memetakan sekitar 2.940 data peserta yang terindikasi anomali.
Indikasi ini mencakup pola jawaban tidak wajar, kemiripan data peserta, hingga dugaan penggunaan joki. Praktik ini umumnya dilakukan dengan mengganti orang yang mengikuti ujian menggunakan identitas orang lain.
Temuan tersebut kemudian didistribusikan ke seluruh pusat UTBK di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan selama pelaksanaan ujian.
Pengawasan Diperketat
Sebagai respons, panitia UTBK di berbagai kampus memperketat sistem pengawasan. Beberapa langkah yang diterapkan antara lain:
- Verifikasi identitas berlapis antara dokumen dan wajah peserta
- Penggunaan CCTV di seluruh ruang ujian
- Analisis data peserta secara real-time
- Seleksi ketat terhadap pengawas ujian
Langkah ini dilakukan untuk memastikan integritas proses seleksi tetap terjaga.
Ancaman Integritas Seleksi Nasional
Kasus dugaan perjokian ini menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. UTBK-SNBT merupakan salah satu jalur utama masuk perguruan tinggi negeri, sehingga kejujuran dan transparansi menjadi aspek yang sangat krusial.
Jika praktik semacam ini tidak ditangani secara tegas, maka dapat merusak keadilan dalam seleksi dan merugikan peserta lain yang mengikuti ujian secara jujur.
Penutup
Munculnya dugaan perjokian di Surabaya menunjukkan bahwa kecurangan dalam seleksi nasional masih menjadi tantangan nyata. Namun, dengan sistem pengawasan yang semakin canggih dan ketat, peluang untuk mengungkap praktik ilegal tersebut juga semakin besar.
Ke depan, sinergi antara teknologi, pengawasan manusia, serta kesadaran peserta menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas sistem seleksi pendidikan di Indonesia.